Turunkan Angka Kecelakaan LLAJ, Pengendara Harus Dibekali Kompetensi

oleh -34 views
HARUS KOMPETEN: Ketua Harian HPPI Eddy Suzendi (kiri) saat kegiatan uji kompetensi mengemudi untuk para pengemudi di Kabupaten Cirebon, Rabu (23/6). FOTO. ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON
HARUS KOMPETEN: Ketua Harian HPPI Eddy Suzendi (kiri) saat kegiatan uji kompetensi mengemudi untuk para pengemudi di Kabupaten Cirebon, Rabu (23/6). FOTO. ANDRI WIGUNA/RADAR CIREBON

Radarcirebon.com, CIRTIM – Fenomena transportasi di Indonesia, khususnya juga Cirebon, masih semerawut. Pengemudi kerap kali ugal-ugalan.

Ada juga yang lalai, ngantuk, dan over dimension, over loading kecelakaan akibat rem blong. Serta melebihi kapasitas muatan. Hal itu kata Ketua Harian Pusat Himpunan Pengemudi Profesional Indonesia (HPPI) Eddy Suzendi.

Menurutnya, sejak keluar Inpres Nomor 4 Tahun 2013 tentang dekade aksi keselamatan jalan sampai rencana umum nasional keselamatan, tampaknya belum banyak membuahkan hasil signifikan.

Alasannya, pelanggaran dan kecelakaan masih tetap menduduki ranking tertinggi di banding dengan negara tetangga Malaysia.

Baca juga: Pemuda Diajarkan Adaptasi Terhadap Inovasi Teknologi

“Sebetulnya kalau kita melihat RUNK (rencana umum nasional keselamatan) itu ada 5 pilar. Pertama manajemen jalan (Bapenas), kemudian PUPR, Kemenhub, Kepolisian, dan terakhir pra dan pasca penanganan kecelakaan. Dalam hal ini Kemenkes dan Jasa Raharja,” kata Eddy Suzendi, Minggu (27/6).

Ia menjelaskan, kelima pilar itu harus saling mengedukasi. Khusus Bapenas, mesti menyiapkan anggaran untuk menciptakan pengemudi yang berkeselamatan.

“Dala menciptakan para pengemudi yang berkeselamatan, harus bekerjasama dengan semua pihak. Tidak bisa sendiri. Karena ini tugas berat dalam membangun karakter manusia,” ucapnya.

Menurutnya, tanpa adanya koordinasi dan bekerja sama, RUNK akan menjadi konsep semata. Sebab, jika melihat dalam batang tubuh RUNK, sudah sangat jelas arah dan sasarannya, termasuk harapan target dalam menurunkan angka fatalitas kecelakaan lalu lintas jalan.

“Menurut hemat kami, saat ini perlu adanya kesadaran kolektif dari pemangku kepentingan terutama pemerintah sebagai garda terdepan dalam mewujudkan keselamatan LLAJ (Lalu Lintas Angkutan Jalan),” terangnya.

Pada sisi lainnya, lanjut Eddy, RUNK sebagai rumah besar dan rumah bersama atau sebagai tempat bernaung sekaligus sebagai perlindungan yang memberikan kemanfaatan. Sehingga cita-cita, dalam mewujudkan zero accident jalan 2035 dapat tercapai pengemudi.

Baca juga: Sudah Satu Tahun Menumpuk, Sampah Liar Akhirnya Diangkut

“Terkadang yang menjadi kambing hitam di dalam setiap kejadian kecelakaan itu para pengemudi. Maka, mereka wajib membentengi diri dengan kompetensi mengemudi. Inilah yang akan membedakan, mana pengemudi yang kompeten dan tidak, dengan sertifikat pengemudi dari pendidikan latihan dan  uji kompetensi,” ungkapnya.

“Kami dari HPPI pun turut serta memelihara kompetensi setiap pengemudi. Ke depan HPPI bekerja sama dengan pihak kepolisian, Kementrian Perhubungan agar ikut mencatat trafic atittude record dari setiap pengemudi yang sudah kompeten dan memiliki sertifikat,”

“Bahkan, kami akan agendakan 1 bulan sekali atau 2 bulan sekali untuk penyegaran skill, attitude dan knowladge. Untuk kompetensi sendiri 3 tahun sekali kami refresh ulang karena masa berlakunya 3 tahun,” sambung pria yang juga menjabat Kabid Keselamatan Dishub Kabupaten Cirebon itu.

Dengan demikian, tambah Eddy, profesi pengemudi akan lebih berharga dan bisa membanggakan. Ke depan juga, HPPI harus terbentuk di berbagai kota di seluruh Indonesia untuk mendata pengemudi yang sudah kompeten atau belum.

“Kalau belum, kita bisa mengusulkan pemerintah atau mendatangi perusahaan untuk mensertifikasikan para pengemudinya dan masuk dalam data HPPI pengemudi yang sudah kompeten,” pungkasnya. (sam/radarcirebon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.