Tanggulangi Stunting Butuh Pendekatan Multidisiplin

oleh -43 views
BAHAS STUNTING: Sejumlah guru besar dan profesor di Indonesia berkumpul dalam satu diskusi webinar membahas penurunan angka stunting yang diprakarsai oleh perwakilan BKKBN Jawa Barat, Senin (6/7) lalu. FOTO. PERWAKILAN BKKBN JAWA BARAT/RADAR CIREBON
BAHAS STUNTING: Sejumlah guru besar dan profesor di Indonesia berkumpul dalam satu diskusi webinar membahas penurunan angka stunting yang diprakarsai oleh perwakilan BKKBN Jawa Barat, Senin (6/7) lalu. FOTO. PERWAKILAN BKKBN JAWA BARAT/RADAR CIREBON

Radarcirebon.com, CIRTIM – Apabila pemerintah ingin menurunkan angka stunting secara radikal, perlu pendekatan multidisplin ilmu. Hal tersebut merupakan salah satu kesimpulan dari webinar perdana yang dilakukan oleh Perwakilan BKKBN Jawa Barat, Senin (5/7) lalu di Bandung.

Dalam webinar tersebut, hadir tiga guru besar anggota Asosiasi Profesor Indonesia (API) dari tiga kampus utama Jawa Barat, yakni Meutia Hatta Swasono dari Universitas Indonesia (UI), Hardinsyah dari IPB dan Hendriati Agustiani dari Universitas Padjadjaran (Unpad).

Menurut Meutia Hatta, bahwa peneliti di bidang kedokteran atau kesehatan dengan bidang antropologi dapat bekerjasama dalam pencegahan stunting. “Misalnya, dalam perencanaan dan pelaksanaan program gizi untuk mencegah stunting,” tuturnya.

Kemudian, ia menambahkan,  ilmuwan kesehatan dapat menyampaikan komunikasi kesehatan yang mudah dipahami kader dan masyarakat melalui bekerjasama dengan ilmuwan komunikasi yang mengetahui infografis yang tepat dan efektif.

Selanjutnya, ilmuwan antropologi dapat memberi masukan mengenai aspek sosial-budaya masyarakat yang memungkinkan warga masyarakat menerima dengan baik pesan-pesan komunikasi kesehatan yang direncanakan.

“Sementara itu, dari ilmuwan psikologi diperlukan pemahaman mengenai tipe kepribadian masyarakat yang perlu diberi program pemenuhan gizi,” tambah guru besar Departemen Antrologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI tersebut.

Secara khusus, sambung Meutia, dalam kerjasama penelitian antar disiplin terkait bidang antropologi dan bidang psikologi, ilmuwan psikologi dapat menjembatani peranan mertua dan ibu dalam memutuskan pemberian makanan terbaik untuk bayi dalam periode 1.000 hari pertama kelahiran.

“Juga bersama-sama menemukan cara-cara mengurangi potensi konflik mental antara pihak yang berkuasa dan yang lemah (tertekan) dalam hubungan antar warga dan rumah tangga penerima program,” ucapnya.

Sedangkan, dari sisi ilmu gizi, guru besar ilmu gizi Fakultas Ekologi Manusia IPB Hardinsyah menekankan pentingnya pemenuhan gizi sejak awal 1000 hari pertama kelahiran.

“Perbaikan gizi dimulai dari ibu hamil, ibu menyusui, pemberian air susu ibu (ASI) dan makanan pendamping ASI (MPASI) yang tepat, aman, dan bergizi,” terangnya.

Dikatakan Hardinsyah, sebuah riset menunjukkan bahwa pemberian satu butir telur setiap hari selama enam bulan pada anak 6-9 tahun mampu menurunkan stunting hingga 47 persen dan underweight 74 persen.

Baca juga: Pasien Covid-19 Terus Bertambah, Puskesmas Bisa Jadi Alternatif

Merujuk hasil Susenas 2018 lalu, konsumsi telur di Indonesia hanya sembilan butir per bulan atau sekitar 16,5 gram per hari. Ini jauh di bawah China yang menyentuh angka 50 gram per hari atau bahkan Malaysia yang berada pada kisaran 35-40 gram per hari.

“Gizi seimbang dengan pengayaan tertentu pada pangan sumber protein, terutama telur, ikan, dan susu dapat mencegah stunting. Juga, perbaikan gizi ibu hamil dapat dilakukan melalui penguatan fungsi keluarga,” papar Ketua Umum Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia tersebut menambahkan.

Sementara, dalam perspektif psikologi, guru besar Fakultas Psikologi Unpad Hendriati Agustiani menekankan bahwa stunting dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor. Salah satunya orang tua memegang peranan penting dalam membentuk perilaku makan dari anak melalui pola asuh dan gaya makan. “Di sinilah pentingnya pola asuh orang tua terhadap anaknya,” bebernya.

Ditegaskan, Orang tua dapat memberi pengaruh besar pada kebiasaan makan anak-anak. Tindakan orang tua mengacu pada harapan menyiapkan anak menghadapi kehidupan. Karena itu, peran parenting dalam pencegahan stunting sangat signifikan.

“Ini menyangkut kesiapan calon ibu dan calon ayah dalam menghadapi kehamilan. Dalam hal ini kesiapan kesiapan fisik maupun psikologis,” tandas Hendriati. (jun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.