Percepat Digitalisasi Ekonomi, Ridwan Kamil: Jawa Barat Punya Program Desa Digital

oleh -210 views
PERCEPAT DIGITALISASI: Gubernur Jabar Ridwan Kamil saat menjadi pembicara dalam Webinar InJabar bertema "Membangun Ekosistem Digital: Optimalisasi Potensi Ekonomi Digital Indonesia di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (23/4) lalu. FOTO. BIRO ADPIM JABAR
PERCEPAT DIGITALISASI: Gubernur Jabar Ridwan Kamil saat menjadi pembicara dalam Webinar InJabar bertema "Membangun Ekosistem Digital: Optimalisasi Potensi Ekonomi Digital Indonesia di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (23/4) lalu. FOTO. BIRO ADPIM JABAR

Radarcirebon.com, CIRTIM  – Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat menginginkan percepatan digitalisasi pada semua sektor pelayanan menjadi suatu keharusan. Pasalnya, saat ini segala halnya tidak terlepas dari dunia digital.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menuturkan, pandemi Covid-19 memaksa semua pihak, mulai dari pemerintah, swasta, perbankan, hingga masyarakat, harus beradaptasi dengan teknologi atau digital. 

“Kami menyadari bahwa tidak ada kehidupan di Jawa Barat yang tidak bisa disentuh oleh digital,” tutur Ridwan Kamil saat menjadi pembicara dalam Webinar InJabar bertema “Membangun Ekosistem Digital: Optimalisasi Potensi Ekonomi Digital Indonesia” di Gedung Sate, Kota Bandung, Jumat (23/4) lalu.

“Covid-19 mengajarkan bahwa ekonomi digital ini membuat perekonomian bertahan. Semua orang dipaksa online, baik itu seminar, sekolah, jual-beli, karena adanya pembatasan,” imbuhnya.

Pihaknya saat ini terus berupaya mewujudkan visi menjadi provinsi digital terdepan di Indonesia, bahkan untuk level Asia. Termasuk pemulihan ekonomi,  percepatan digitalisasi ekonomi untuk industri besar, menengah dan kecil, termasuk UMKM juga dilakukan. 

“Bahwa digital ini adalah sebuah hal yang wajib bukan lagi pilihan, kedua jika di tahun 2045 Indonesia mau menjadi negara hebat, negara maju, maka SDM milenial atau generasi Z itu harus kompetitif dan produktif, itu hanya ada di domain digital,” ucapnya.

Baca juga: Ciptakan Inovasi Saat Pandemi Covid-19, Pemuda ini Manfaatkan Akses Modal Dari Pegadaian

Pria yang biasa disapa Kang Emil ini menjelaskan, percepatan digitalisasi ekonomi di Jawa Barat bersifat inklusif. Artinya, tidak hanya fokus di pemerintahan, tetapi juga masyarakat. Salah satu inovasi yang digagas Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat dan sudah diakui di level Asia Pasifik adalah Desa Digital. 

Desa Digital merupakan program pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi digital dan internet dalam pengembangan potensi desa, pemasaran dan percepatan akses serta pelayanan informasi.

Nantinya, seluruh pelayanan publik di desa akan didigitalisasi, koneksi internet akan dibenahi, command center dibangun, dan masyarakat desa dapat memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan sekaligus mengenalkan produk unggulan di wilayahnya. 

Sejak diluncurkan pada 10 Desember 2018, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat sudah memasang wifi di desa-desa blank spot atau desa tidak memiliki koneksi internet sama sekali.

“Jadi jangan kaget kalau di Jawa Barat kasih makan lele pakai handphone, cari ikan di laut dengan teknologi Fish Finder. Semua inovasi itu kita lakukan sebagai bagian kemajuan zaman,” ucapnya.

Sebelumnya, Program Desa Digital mendapatkan penghargaan bergengsi di tingkat internasional. Desa Digital terpilih sebagai Digital Equity and Accessibility dalam ajang IDC Smart City Asia/Pacific Awards 2020.

Desa Digital mendapat penghargaan tersebut karena dinilai mampu memberdayakan masyarakat dan meningkatkan aksesibilitas informasi melalui pemanfaatan teknologi digital dan internet.

Guna mendongkrak perekonomian di desa, Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat juga meluncurkan program One Village One Company (OVOC) alias satu perusahaan di masing-masing desa.

Sementara untuk pemberdayaan desa melalui ekonomi keumatan, pihaknya juga telah meluncurkan program One Pesantren One Product (OPOP). OPOP mendorong pesantren di Jabar untuk memiliki produk unggulan sehingga mandiri secara ekonomi. 

Hingga 2020, terdapat 1.574 produk asal OPOP dengan sebaran pesantren di 825 kecamatan se-Jawa Barat. Ditargetkan, jumlah peserta OPOP bertambah 1.000 pesantren baru di 2021. 

“Kita memberdayakan tanah-tanah desa dengan program satu desa satu perusahaan, kita punya mimpi 5.312 desa, punya 5.312 perusahaan,” pungkasnya. (rls/radarcirebon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.