PENDIDIKAN ONLINE APAKAH ALTERNATIF EDUKASI ATAU HANYA PEMBODOHAN SEMATA ?

oleh -115 views
Teja Subakti
Teja Subakti

Oleh : Teja Subakti*)

Masa pandemi Covid-19  memaksa seluruh masyarakat dunia termasuk di Indonesia untuk sejenak beristirahat.   Jika biasanya, setiap manusia dapat melakukan aktivitas apa saja sebagaimana aktivitas umumnya . Namun, sejak terjadinya masa pandemi Covid-19, segala rutinitas setiap  manusia tersebut dipaksa untuk dibatasi dan kurangi. Hal tersebut tentunya guna mengurangi pencegahan penyebaran virus Covid-19 terhadap masyarakat kita yaitu masyarakat Indonesia.

Sejak itu, kondisi tersebut telah banyak memberikan dampak perubahan yang luar biasa baik dari segi kesehatan, pertumbuhan ekonomi, termasuk pada dunia pendidikan bangsa ini.

Dunia pendidikan bangsa saat ini benar-benar sedang dilanda tantangan yang sangat luar biasa. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan program belajar dirumah melalui Surat Edaran Mendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pencegahan Covid-19 pada satuan Pendidikan. Kemudian, Surat Edaran Nomor 36962/MPK.A/HK/2020 tentang Pembelajaran secara daring dan Bekerja dari Rumah Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19 dan surat edaran lainnya.

Melalui penetapan tersebut, tentu sebagai alternatif edukasi yang dilakukan oleh pemerintah sebagai bentuk penyelamatan nasib pendidikan pada bangsa ini. Meskipun tidak bisa dipungkiri atas penetapan kebijakan tersebut dunia pendidikan bangsa saat ini juga akan merasakan perbedaannya. Baik dalam penerapan pengajaran yang dilakukan oleh setiap guru atau dosen kepada murid atau mahasiswa sehingga bisa saja akan berdampak pada kualitas setiap siswa-siswi atau mahasiswa dimasa yang mendatang.

Namun, dibalik kebijakan pemerintah tersebut tentu melahirkan berbagai macam polemik yang dirasakan oleh banyak masyarakat kita termasuk masyarakat kebawah pada umumnya. Banyak kerugian yang dirasakan baik oleh orang tua murid maupun oleh para siswa-siswi kita hari ini.

Mulai dari kegiatan belajar mengajar yang tidak efektif, lemahnya jaringan internet terutama pada daerah-daerah pedalaman di Indonesia, kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak, serta kurangnya bimbingan secara langsung dari seorang guru kepada murid.

Pasalnya, sistem pendidikan online pada dasarnya lebih mengedepankan siswa-siswi kita untuk mengerjakan tugas yang bertumpuk-tumpuk setiap harinya,  tanpa memperhatikan bagaimana  untuk menciptakan paradigma berpikir dari setiap murid, atau mampu mendorong setiap murid untuk menjadi generasi kreatif yang mampu mengakses berbagai macam sumber pengetahuan, menciptakan sebuah karya, wawasan yang luas, serta mampu membentuk setiap karakter murid.

Sejatinya, pendidikan hadir sebagai upaya pembebasan manusia dari setiap pembodohan yang menjajah dirinya selama ini. Melalui peran seorang guru, dosen, atau tenaga pendidik kita hari inilah harus mampu memberikan tauladan yang baik demi terciptanya generasi muda kita yang merdeka agar dapat berguna bagi bangsa dan negara.

Sebagaimana semboyan yang dikatakan oleh bapak pendidikan kita yaitu Ki Hajar Dewantara sebagai berikut “ing ngarso sun tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”. Yang artinya didepan member tauladan, ditengah member bimbingan, dibelakang memberikan dorongan.

Namun, sejak ditetapkannya aturan pemerintah tentang kewajiban belajar dirumah bagi setiap murid atau mahasiswa kita yang hingga saat ini. Semboyan yang diamanahkan oleh bapak pendidikan kita tersebut terancam tidak benar-benar dirasakan bagi setiap murid kita hari ini.

Sebab  tidak bisa dipungkiri setiap murid dan mahasiswa kita saat ini tidak mendapatkan bimbingan serta pengawasan secara langsung dari seorang guru atau dosen. Hal inilah yang bias saja berpotensi pada kurangnya kemampuan dan kualitas dari setiap murid dan mahasiswa kita nanti.

Padahal diketahui, sebelum adanya sistem pendidikan online yang diterapkan oleh pemerintah kita saat ini, juga dunia pendidikan kita memang sedang dalam penurunan degradasi yang sangat hebat. Pendidikan kita hari ini seolah-olah hanya memfokuskan prinsip kepatuhan atas segala tugas-tugas yang menumpuk. Bahkan, kurikulumnya saja dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar industri. Sistem pendidikan bangsa saat ini benar-benar lupa bagaimana merawat generasi yang kritis. Bagaimana mencetak generasi-generasi yang berkopenten.

Jika alasan  pemerintah menerapkan penetapan belajar dirumah tersebut guna mengindari kerumunan agar terhindar dari penyebaran Covid-19. Lalu mengapa kerumunan-kerumunan lain seperti di pasar, mall, café, jalan, bahkan tempat-tempat liburan lainnya masih dibiarkan begitu saja?

Mengapa sekolah hingga saat ini belum juga melakukan belajar tatap muka? Padahal apa salahnya jika kita mencoba mengurangi jumlah kapasitas siswa atau mahasiswa di kelas serta mampu menerapkan protokol kesehatan sebagaimana yang diterapkan pada pasar, mall, café, jalan, bahkan tempat-tempat liburan lainnya. Bahkan, pada kegiatan pesta demokrasi pilkada pun mampu dijalankan dengan menerapkan protokol kesehatan, lalu mengapa pendidikan kita tidak mencoba cara seperti itu? Bukankah ini secara jelas hanya pembodohan semata?

Sudah hampir setahun lamanya dunia pendidikan bangsa ini mengalami pelumpuhan. Akibat sistem pendidikan online tersebut justru melahirkan generasi didikan sosmed atau generasi yang kecanduan game online, ketimbang generasi yang berkualitas yang mampu mengambil tauladan-tauladan terbaik dari seorang guru serta berguna baik bagi bangsa dan negara.

Jika sistem pendidikan online masih terus diterapkan atau masih dianggap menjadi alternatif edukasi yang baik bagi siswa-siswi kita hari ini. Maka tidak menutup kemungkinan juga masa depan siswa-siswi serta mahasiswa bangsa dihari mendatang benar-benar sangat mengkhawatirkan.

Selamatkan Pendidikan Bangsa Sekarang Juga ! Selamatkan masa depan generasi muda kita !

*) Penulis adalah lawyer pada Law Firm Akar Djati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.