HARDIKNAS DAN MASA PEMBELAJARAN DARING

oleh -11 views
Retno Kuntjorowati
Retno Kuntjorowati

Oleh: Retno Kuntjorowati*)

Tahun 2021 merupakan tahun kedua Hari Pendidikan Nasional yang bertepatan dengan tanggal 2 Mei diperingati saat Indonesia dalam masa pandemi Covid-19.

Tema Hari Pendidikan tahun 2021 adalah “Serempak bergerak, Wujudkan Merdeka Belajar”. Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas)yang ditetapkan melalui Keppres Nomor 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959 merupakan hari nasional dan bukan hari libur, dimaksudkan untuk memperingati hari kelahiran Ki Hajar Dewantara yang memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soeryaningrat (Mirnawati,2012), pelopor pendidikan di Indonesia dan pendiri perguruan Taman Siswa.

HARDIKNAS DI ERA PANDEMI COVID-19

Di masa pandemi sekolah-sekolah tidak dapat melaksanakan upacara peringatan Hardiknas seperti tahun-tahun sebelum terjadinya pandemi.

Upacara peringatan Hardiknas harus mengikuti panduan yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan mengingat kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia.

Meskipun demikian, setiap siswa bahkan mulai dari tingkat SD sudah tidak asing lagi dengan nama tokoh Ki Hajar Dewantara, yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui SK Presiden No. 305 Tahun 1959 tanggal 28 Nopember 1959.

Filosofinya tentang pendidikan yang sampai saat ini tetap menjadi pedoman dan diharapkan menjadi sifat setiap pendidik yaitu “Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” yang bermakna guru harus menjadi panutan, membangun ide-ide siswa untuk berkarya dan menuntun serta menunjukkan arah yang benar bagi anak didiknya.

Hardiknas tahun 2021 tidak hanya diperingati oleh warga pendidikan. Geliat peringatan Hardiknas tahun 2021 sudah terpublikasi melalui media cetak maupun media online.

Hardiknas tahun 2021 tidak hanya diperingati oleh warga pendidikan notabene di bawah naungan Dinas Pendidikan saja.

Beberapa instansi terkait ikut berpartisipasi dalam peringatan ini. Di antaranya Badan Penelitian Pengembangan Hukum dan HAM (Balitbang Kumham) yang akan menyelenggarakan konferensi ilmiah internasional secara virtual bertema “Restructuring Law and Human Rights in New Normal” yang akan dilaksanakan tanggal 3-6 Mei 2021 (https//sulbar.kemenkumham.go.id).

Ada juga sebuah perusahaan teknologi pendidikan yang menyelenggarakan Simposium Pendidikan Nasional yang pesertanya adalah para guru, siswa, orang tua dan masyarakat umum di seluruh Indonesia, secara virtual.

Melalui Surat Edaran Mendikbud Hardiknas 2021 nomor 27664/MPK.A/TU.02.03/2021, tanggal 26 April 2021, diberitahukan bahwa Kemendikbud akan mengadakan upacara bendera pada tanggal 2 Mei 2021 secara tatap muka, terbatas, minimalis dan menerapkan protokol kesehatan.

Sekolah-sekolah dan instansi dihimbau untuk mengikuti jalannya upacara melalui YouTube dan saluran TV Edukasi di rumah masing-masing. Sekolah dapat memeriahkan Hardiknas secara kreatif, menjaga dan membangkitkan semangat belajar di masa pandemi Covid-19, serta mendorong pelibatan dan partisipasi publik dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Era pandemi Covid-19 tidak mengurangi esensi peringatan Hardiknas tahun ini. Mungkin hanya berbeda dengan tahun-tahun sebelum era pandemi dalam hal gebyar yang terlihat terutama di lingkungan sekolah.Semangat serta nilai pendidikan di Indonesia tetap akan terpelihara dan berkembang melalui ikhtiar semua pihak, baik dari pelaku pendidikan maupun pendukung pendidikan, terutama dari orang tua, keluarga dan lingkungan.

PEMBELAJARAN DARING DI MASA PANDEMI

Sejak masa pandemi Covid-19 di bulan Maret tahun 2020 kegiatan belajar mengajar dari semua jenjang pendidikan dilaksanakan secara pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau dalam jaringan (daring). Para siswa dan orang tua dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi yang serba online.

Jika sebelum pandemi banyak sekolah yang melarang siswanya membawa handpone yang berkamera atau terlebih lagi smartphone dengan alasan agar anak tidak terkontaminasi oleh tampilan yang dianggap kurang baik, maka sekarang keadaan mejadi berubah.

Siswa harus mempunyai smartphone untuk dapat mengakses materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru melalui online.

Keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah merasa berat harus mengadakan smartphone untuk sarana belajar anaknya. Belum lagi ditambah beaya pembelian kuota internet dan signal yang tidak menentu di beberapa lokasi, membuat banyak siswa dan terutama orang tua yang mengeluhkan hal tersebut.

Untuk meringankan beban orang tua, pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mengeluarkan bantuan kuota data kepada siswa, mahasiswa, guru dan dosen yang sudah terealisasi mulai masa pandemi tahun 2020.

Pada bulan Januari 2021 menurut Siaran Pers Kemendikbud Nomor: 002/sipres/A6/I/2021 Kemendikbud telah menyalurkan bantuan kuota data internet kepada 35,725 juta kepada peserta didik dan tenaga pendidik di seluruh Indonesia.

Hal ini bertujuan untuk mendukung prose belajar dari rumah selama masa pandemi Covid-19. Tentu saja kebijakan tersebut bukan berarti dapat mencover kebutuhan kuota data iinternet secara keseluruhan. Peran dan kepedulian lingkungan sangat mendukung pelaksanaan pembelajaran daring,diantaranya personal atau instansi yang memberi kesempatan kepada anak-anak untuk menggunakan fasilitas jaringan internet di rumahnya atau kantornya.

Di sini terlihat sikap peduli kepada pendidikan serta rasa turut bertanggung jawab untuk mensukseskan pendidikan anak bangsa dan sekaligus membantu program pemerintah.

Dari sumber yang sama, pada masa pandemi di tahun 2020 pengguna baru portal Rumah Belajar bertambah secara signifikan yaitu sebanyak 7,79 juta dengan pengunjung portal Rumah Belajar sebanyak 105,532 juta.

Rumah Belajar merupakan portal pembelajaran online yang disiapkan oleh Kemendikbud untuk memberi kesempatan kepada anak-anak untuk dapat belajar dimana saja dan kapan saja.

Portal belajar online ini dapat diakses secara gratis. Materinya mulai dari pembelajaran jenjang PAUD sampai SMA. Rumah Belajar ini sangat membantu para siswa untuk menambah pemahaman materi pelajaran yang disampaikan guru melalui virtual.

Tetapi nampaknya portal Rumah Belajar ini belum tersosialisasi secara menyeluruh di semua daerah di Indonesia. Diperlukan upaya yang terus menerus agar kemanfaatannya menjadi optimal.

KURIKULUM ANAK BANGSA DI ERA SERBA OBLINE

Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan  kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan (UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).

Dari penjelasan di atas sangat jelas bahwa kurikulum sangat penting dalam pembelajaran. Jika dibandingkan dengan negara lain, muatan kurikulum di Indonesia cukup padat, karena banyaknya jumlah mata pelajaran.

Kurikulum terbaru yang dinamakan Kurikulum 2013 digulirkan pada tahun 2013 tetapi saat itu tidak semua sekolah wajib menggunakannya.

Setelah melalui proses panjang akhirnya saat ini semua sekolah sudah menggunakan Kurikulum 2013, yang disempurnakan pada tahun 2018. Dengan kondisi darurat saat ini, saat pembelajaran dilaksanakan melalui online tentu saja tidak mungkin kurikulum tetap menggunakan yang lama (sebelum pandemi) tanpa peninjauan kembali.

Kemendikbud telah menerbitkan Kurikulum Darurat dalam Kondisi Khusus meleui SK Menteri Nomor 719/P/2020 tanggal 7 Agustus 2020. Sekolah dapat menggunakan kurikulum sesuai kebutuhan anak didik.

Sekolah dapat memilih tetap mengacu pada Kurikulum Nasional, menggunakan kurikulum darurat atau menyederhanakan kurikulum secara mandiri. Yang perlu diperhatikan dari pilihan opsi di atas adalah siswa tidak dituntut untuk menuntaskan semua seluruh target kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.

Karena pembelajaran dominan secara virtual (online) tentu saja ketrampilan guru dalam berbagai hal diantaranya penguasaan teknologi informasi, penyiapan bahan ajar, pendekatan personal kepada siswa (meskipun secara virtual), semangat untuk memajukan pendidikan dan strategi dalam pelaksanaan pembelajaran, adalah faktor-faktor penting untuk tercapainya hasil belajar yang baik.

Di masa serba online saat ini guru yang tidak aktif mengikuti perkembangan teknologi akan mengalami kesulitan dalam mengajar.

Orang tua siswa juga dituntut untuk minimal mengenal teknolgi informasi agar dapat mendampingi anak-anaknya saat belajar di rumah.Selain menerbitkan kurikulum darurat Kemendikbud juga menyiapkan modul pembelajaran dalam kondisi khusus untuk membantu meringankan beban kesulitan pembelajaran di masa pandemi Covid-19.

Modul tersebut memuat uraian pembelajaran berbasis aktivitas untuk guru, orang tua, dan siswa. Guru sebagai agen perubahan menjadi faktor utama keberhasilan proses pembelajaran baik itu pada masa sebelum pandemi, terlebih lagi pada saat sekarang, masa pandemi yang membuat kondisi tidak menentu dan mengakibatkan siswa hampir kehilangan semangat belajarnya.

Harmonisasi orang tua dan pihak sekolah akan membantu mengembalikan kepercayaan diri para siswa. Mereka akan merasa dilindungi dan dilayani kebutuhan belajarnya sehingga di masa serba online dengan berbagai perubahan cara belajar dapat meningkatkan prestasi mereka untuk menjadi generasi penerus harapan kita semua. Semoga. (*)

*)Penulis adalah Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah Kota Cirebon, anggota Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Daerah Muhammadiyah Cirebon, Ketua PKK RW 07 Kelurahan Larangan, Kecamatan Harjamukti Cirebon

Tulisan ini sudah diterbitkan oleh Harian Umum Radar Cirebon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *