Gejolak Politik Dengan Kekerasan Bayangi Sejarah Haiti

oleh -22 views
FOTO. BENDERA HAITI
FOTO. BENDERA HAITI

Radarcirebon.com, CIRTIM –  Kabar mengejutkan datang dari negara kepulauan di laut Karibia, Presiden Haiti Jovenel Moise tewas terbunuh oleh sekolompok bersenjata pada Rabu (7/7) waktu setempat.

Pembunuhan berlangsung di rumah sang presiden yang punya julukan Banana Man, di Port-au-Prince, Ibukota Haiti.

Akibat peristiwa tersebut, mengundang kecaman dan keprihatinan dunia Internasional. Presiden Amerika Serikat, Joe Biden dalam pernyataan resminya mengaku terkejut mendengar kabar pembunuhan tersebut. “Ini tindakan mengerikan dan keji,” katanya.

Negara adidaya ini, tambah Biden siap membantu guna menjamin keamanan Haiti.”Kepada rakyat Haiti, Amerika Serikat sampai belasungkawa dan siap bekerja untuk Haiti yang aman,” tambahnya.

Bagi orang Indonesia, Haiti tidak terlalu familiar. Pasalnya, negara yang berada di bagian barat Pulau Hispaniola dan beberapa pulau kecil di laut Karibia merupakan sebuah negara kecil.

Berdasarkan informasi dari Wikipedia, meski kecil negara ini mempunyai peran penting bagi dunia. Sebab, salah satu produsen gula terbesar di dunia.

Kendati demikian, angka kemiskinan di negara tersebut sangat tinggi. Salah satu faktornya adalah puluhan bencana yang senantiasa mengintai, mulai dari gempa bumi hingga angin topan. Selain itu, kejolak politik yang tak kunjung berhenti membuat Haiti kesulitan untuk bangkit.

Mengutip dari akun Instagram @inspecthistory, Haiti merdeka dari Perancis pada 1 Januari 1804. Kemudian, setelah merdeka, negara yang dulu terkenal sebagai pengimpor budak dipimpin oleh Jean-Jacques Dessalines yang notabene mantan seorang budak.

Sejak merdeka, gejolak politik selalu menghantui Haiti, sehingga membuat serangkaian jabatan presiden berumur pendek. Pada tahun 1956 Francois Duvalier mengambil alih kekuasaan dan membuat sebuah periode panjangan pemerintahan otokratis.

Selanjutnya, kekuasaan beralih oleh anaknya Jean Claud Duvalier hingga tahun 1986. Dalam kurun waktu ini, kekerasan negara terhadap warga sipil, korupsi dan tidak adanya peningkatan ekonomi menjadi buah bibir di Haiti.

Memasuki millennium baru, Haiti mencoba membangun sistem pemeritahan yang lebih demokratis. Tapi, lagi-lagi pemilihan umum yang berlangsung pada 15 Oktober 2015 menimbulkan ketidakpuasan warga, sehingga ribuan orang turun ke jalan untuk melancarkan protes.

Akhirnya, Pemilu pun diulang lagi pada November 2016, dengan menghasilkan Jovenel Moise terpilih sebagai pemenang dengan raihan suara 55,67 persen.

Setelah, naik tahta pada 7 Februari 2017, sekarang Jovenel Moise terbaring kaku akibat serangan kelompok bersenjata. (jun)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.