Cerahnya Masa Depan Industri Tambang Nikel Indonesia

oleh -73 views
FOTO ILUSTRASI: FROM nikel.co.id
FOTO ILUSTRASI: FROM nikel.co.id

Radarcirebon.com, CIRTIM  – Bisnis pertambangan nikel dimasa mendatang akan menjadi bisnis yang cukup menjanjikan.

Pasalnya, permintaan biji nikel untuk pasar domestik sangat tinggi, menyusul rencana pemerintah mengembangkan ekosistem industri kendaraan listrik dengan membentuk holding BUMN Baterai Indonesia.

Menurut Direktur Utama PT PAM Mineral Tbk, Ruddy Tjanaka bahwa terdapat peluang yang cukup menjanjikan pada pertambangan nikel berkadar rendah.

Hal ini karena pertumbuhan kebutuhan baterai untuk bahan bakar kendaraan listrik tinggi. Pada lain sisi, permintaan biji nikel berkadar tinggi juga terus mengalami peningkatan, terutama karena adanya industri pengolahan atau smelter yang ada.

“Adanya industri baterai nasional seiring tumbuhnya dengan teknologi Hydrometalurgi akan meningkatkan kinerja perusahaan dengan penyerapan nikel kadar rendah. Ini yang kita harapkan bersama,” tutur Ruddy dalam keterangannya yang dilansir dari Jawapos, Kamis (15/7).

Dia optimis, permintaan biji nikel dengan kadar tinggi akan meningkat. Apalagi dengan ekspansi di smelter yang ada, terutama di daerah-daerah yang dekat dengan tambang perseroan.

“Tentu kita optimis perkembangan ke depan itu kebutuhan ore nikel bisa melebihi 7-8 juta ton per bulan,” kata dia.

Dengan eksplorasi yang terus menerus berlangsung, Ruddy berkeyakinan bahwa ke depan perseroan dan anak perusahaannya masih memiliki sumber daya sekitar 28 juta ton lebih bijih nikel.

Dari 28 juta bijih nikel tersebut, lanjut Ruddy tidak semua memiliki kadar tinggi. Namun juga terdapat biji nikel dengan kadar rendah. “Perseroan saat ini telah melakukan penjualan biji nikel kadar rendah ke smelter yang ada,” lanjutnya.

Untuk jangka menengah dan jangka panjang, perusahaan pertambangan memiliki strategi menambah cadangan dengan melalui akuisisi atau maupun mencari tambang baru.

“Saya harap dapat mengerek kinerja perusahaan dengan peningkatan yang lebih tinggi lagi kedepannya,” imbuhnya.

Untuk rencana jangka pendek, perseroan akan memenuhi target Rencana Kerja Anggaran Biaya (RKAB) sebanyak 1,8 juta ton bijih nikel.

“Tambang nikel ini tergantung cuaca, jadi kita berharap cuaca mulai bersahabat, sehingga kita bisa produksi lebih banyak untuk memenuhi kebutuhan smelter ke depan,” ujar Ruddy.

Perlu kita ketahui, market share untuk industri EV terprediksi akan meningkat menjadi 28 persen di tahun 2030 dan 58 persen di tahun 2040. Pada tahun 2019, konsumsi nikel untuk bahan baku baterai mencapai 7 persen dari total konsumsi global.

Perkiraan pada tahun 2022, permintaan nikel akan melebihi pasokan yang ada. “Potensi yang besar bagi Perseroan untuk bertumbuh mengingat saat ini baru sebagian kecil dari area yang sudah tereksploitasi,” pungkasnya.

Saat ini, pemerintah Indonesia melalui holding BUMN baterai Indonesia atau PT. Indonesia Battery Corporation (IBC) bekerjasama dengan LG Chem (Korea) dan CATL (China) akan mulai melakukan peletakan batu pertama atau groundbreaking pada akhir Juli 2021 dan berharap mulai beroperasi pada 2023.

Nikel dengan kadar rendah untuk kebutuhan campuran dengan jenis logam Cobalt sebagai bahan baku untuk baterai. (jawapos/radarcirebon)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

No More Posts Available.

No more pages to load.